Cahaya Dakwah di Tengah Rimba, Perjuangan Dai Mengabdi untuk Suku Anak Dalam
DITENGAH hamparan hutan dan pedalaman Jambi, terdapat sebuah kisah perjuangan yang tak banyak terdengar namun sarat makna. Ust. Khairul Wardi, seorang kader dai yang berdedikasi, bersama dua rekannya, Ust. Solehan dan Ust. Bima, telah mengabdikan hidup mereka untuk menyebarkan cahaya ilmu dan agama kepada Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Batanghari.
Berlokasi di Desa Adat, Brumbung Bandung Tigo, Kejasung Bukit XII, Provinsi Jambi, ketiganya memulai langkah berani dengan mendirikan Pesantren Hidayatullah SAD di Desa Padang Kelapo, Sei Rengas, Batanghari.
Pesantren ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi menjadi oase harapan yang membina generasi muda SAD melalui pengajaran baca tulis Al-Qur’an, calistung (membaca, menulis, dan berhitung), serta tata cara ibadah yang benar.
Perjuangan mereka bukanlah hal yang ringan. Medan jalan menuju lokasi pesantren adalah ujian pertama yang harus mereka taklukkan setiap hari.
Jalanan di pedalaman Batanghari jauh dari kata mulus; saat musim kering, debu tebal beterbangan menyelimuti perjalanan, menyulitkan penglihatan dan pernapasan. Namun, ketika hujan turun, tantangan berubah menjadi lumpur licin yang membuat setiap langkah terasa berat.
Jarak tempuh yang tidak sebentar—berjam-jam melintasi hutan dan perbukitan—menambah beban fisik yang harus mereka pikul.
Meski begitu, semangat Ust. Khairul dan rekan-rekannya tak pernah padam. Mereka memahami bahwa setiap rintangan adalah bagian dari jihad mereka dalam menyebarkan kebaikan.
Tantangan tak berhenti di medan jalan. Di Desa Padang Kelapo, listrik belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Penerangan yang minim menjadi kendala besar, terutama saat malam tiba.
Cahaya lampu minyak atau obor menjadi satu-satunya penutup kegelapan, menyertai kegiatan belajar mengajar di pesantren.
Di tengah sunyi malam, Ust. Khairul, Ust. Solehan, dan Ust. Bima dengan penuh kesabaran membimbing anak-anak SAD membaca Al-Qur’an di bawah sinar remang.
Kondisi ini mengingatkan kita pada sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Kutipan ini seolah menjadi penyemangat bagi mereka, bahwa setiap kesulitan adalah langkah menuju keberkahan.
Pesantren Hidayatullah SAD bukan hanya sekolah agama, tetapi juga pusat transformasi. Bagi Suku Anak Dalam, yang selama ini hidup terisolasi dari dunia luar, kehadiran pesantren ini membuka jendela baru.
Anak-anak diajarkan membaca dan menulis, keterampilan dasar yang sebelumnya asing bagi mereka. Mereka juga diperkenalkan pada tata cara ibadah yang sesuai syariat, membentuk karakter dan akhlak mulia.
Ust. Khairul, dengan keteguhan hatinya, memimpin misi ini bersama Ust. Solehan dan Ust. Bima, membuktikan bahwa dakwah bukan hanya soal kata-kata, tetapi aksi nyata yang mengubah kehidupan.
Namun, perjuangan ini tak luput dari ujian batin. Jauh dari keluarga, hidup sederhana tanpa fasilitas modern, dan menghadapi keterbatasan sumber daya adalah realitas yang mereka hadapi.
"Jika anak-anak ini bisa membaca Al-Qur’an dan mengenal Tuhannya, itu sudah lebih dari cukup bagi kami,” kawa Khairul, seraya menekankan bahwa dakwah itu adalah pengorbanan, dan pengorbanan itu adalah bukti cinta kepada Allah dan umat-Nya.
Pesantren Hidayatullah SAD berdiri tegak sebagai monumen perjuangan mereka, mengingatkan kita semua bahwa di setiap sudut terpencil negeri ini, ada pejuang-pejuang tanpa pamrih yang terus menyalakan obor perubahan.[]