Dai Menembus Pegunungan Nias, Membawa Cahaya Dakwah di Tengah Pulau Terpencil - Persaudaraan Dai Indonesia | Bersama Dai Membangun Negeri | Posdai.or.id

Selasa, 11 Maret 2025

Dai Menembus Pegunungan Nias, Membawa Cahaya Dakwah di Tengah Pulau Terpencil

DITENGAH gemuruh ombak dan hamparan pegunungan yang menjulang, sebuah kisah perjalanan dakwah lahir dari hati seorang pemuda bernama Fatih ...


DITENGAH
gemuruh ombak dan hamparan pegunungan yang menjulang, sebuah kisah perjalanan dakwah lahir dari hati seorang pemuda bernama Fatih Muammal Intifadhah, atau yang akrab disapa Ustadz Fatih. 

Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, ia telah memilih jalan yang tak biasa: mengabdi sebagai dai di pedalaman Pulau Nias, sebuah wilayah terpencil di Sumatera Utara. 

Bersama istri dan dua anak kecilnya, ia melangkah penuh keyakinan, membawa visi besar dalam dada: menjadi dai yang efektif dan efisien dalam menyebarkan ajaran Islam. Namun, di balik semangatnya yang membara, ada perjuangan panjang, tantangan medan, dan harapan sederhana yang menggetarkan jiwa.

Dari Medan ke Nias

Fatih lahir di Medan pada 14 November 2002, sebuah kota yang ramai dan penuh dinamika. Berasal dari keluarga sederhana di Deli Serdang—ayahnya seorang wiraswasta dan ibunya seorang guru—ia dibesarkan dengan nilai-nilai kejujuran dan pengabdian. 

Namun, panggilan jiwanya membawanya jauh dari hiruk-pikuk kota menuju Pulau Nias, tempat di mana hanya 12,5% dari 760.000 penduduknya memeluk agama Islam. 

“Saya sangat bersemangat untuk memulai perjalanan ini,” ujarnya dengan nada penuh harap saat pertama kali memutuskan menerima tugas dakwah di sana.

Perjalanan menuju Nias bukanlah hal yang mudah. Dari Medan, Fatih bersama keluarga kecilnya menempuh perjalanan darat selama 12 jam dengan mobil travel menuju Sibolga. 

Lelah belum usai di sana, mereka melanjutkan dengan naik Kapal Wira Nauli selama 9 jam, bergoyang di atas ombak menuju Gunung Sitoli, ibu kota Nias. 

“Tiba di Gunung Sitoli pada pagi harinya,” kenang Fatih dengan raut wajah yang penuh syukur. Namun, perjalanan belum selesai. 

Dari Gunung Sitoli, ia masih harus menempuh 60 kilometer lagi menuju Desa Turelotu di Kecamatan Lahewa, Nias Utara. Jalan darat yang berliku di tengah pegunungan itu memakan waktu 2 jam, hingga akhirnya ia tiba di desa kecil itu pada siang hari, dengan matahari yang terik menyambut langkahnya.

Keindahan dan Tantangan di Desa Turelotu

Desa Turelotu menyapa Fatih dengan panorama alam yang memukau. “Saya sangat terkesan dengan keindahan alam Nias, yang terkenal dengan pantai-pantai yang indah dan budaya yang unik,” tuturnya. 

Pegunungan yang hijau, udara yang segar, dan keramahan masyarakat setempat seolah menjadi pelipur bagi hati yang lelah. Namun, di balik keindahan itu, ada tantangan yang tak bisa diabaikan. 

Medan dakwah di pegunungan Nias penuh rintangan: jarak yang jauh, akses yang sulit, dan bahasa suku daerah yang menjadi penghalang komunikasi. 

“Agak sulit berkomunikasi dengan masyarakat setempat karena mereka menggunakan bahasa suku,” ungkapnya dengan nada prihatin namun tak putus asa.

Di desa kecil ini, Fatih memulai misinya: meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan dakwah serta mengembangkan kemampuan berdakwahnya. Setiap hari, ia mengajar 25 anak-anak binaan untuk belajar Al-Qur’an. 

Suara mereka yang lantang membaca ayat-ayat suci menjadi melodi harapan di tengah kesunyian pegunungan. “Saya juga sangat bersemangat untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya beragama,” katanya dengan mata berbinar. Bagi Fatih, setiap langkah kecil yang ia lakukan adalah bagian dari perjuangan besar untuk membawa cahaya di tempat yang terpencil.

Harapan di Balik Kendaraan Dakwah

Namun, semangat Fatih kerap terbentur kenyataan. Jarak 60 kilometer dari Gunung Sitoli ke Desa Turelotu, ditambah medan yang sulit, membuatnya tak bisa menjangkau lebih banyak jiwa. Ia bermimpi memiliki kendaraan dakwah, sebuah harapan sederhana namun penuh makna. 

“Kendaraan dakwah memungkinkan saya untuk menjangkau wilayah yang lebih luas dan terpencil, sehingga dapat meningkatkan jumlah jamaah yang dapat dijangkau,” ujarnya dengan nada penuh asa. 

Bayangannya sederhana: roda yang berputar membawanya ke desa-desa lain, suara adzan yang bergema lebih jauh, dan anak-anak yang semakin banyak belajar Al-Qur’an bersamanya.

Sosok Fatih adalah cerminan dari pengabdian yang tulus. Di usia muda, ia memilih jalan yang tak mudah, meninggalkan kenyamanan kota demi sebuah panggilan jiwa. Ia tak hanya membawa ajaran, tetapi juga harapan bagi 25 anak binaannya dan masyarakat Desa Turelotu. 

Dalam setiap langkahnya, ada doa yang terselip: agar cahaya Islam semakin terang di pulau kecil ini, meski hanya 12,5% penduduknya yang menjadi bagian darinya.

“Mohon doanya agar kami dapat terus mengabdi dalam dakwah," katanya, dengan suara yang penuh keyakinan namun lembut. 

Kata-kata itu bukan sekadar visi, tetapi janji yang ia patrikan dalam hati. Di tengah pegunungan Nias, Fatih berdiri tegak—seorang suami, ayah, dan dai yang mengabdi dengan cinta. Dan di setiap kilometer yang ia tempuh, ada cerita tentang perjuangan, keimanan, dan harapan yang tak pernah padam. (ybh/pos)

Mitra

Sinergi adalah energi kita, terus berpadu dalam langkah nyata

  • Bersama Dai Bangun Negeri
  • Save Indonesia with Quran, ajak masyarakat hidupkan al-Quran
  • Menjadi dai perekat ukhuwah islamiyah dan ukhuwan insaniyah
  • Keswadayaan bersama mengemban amanah dakwah majukan negeri